A|

Kamis, 10 Oktober 2024

Sirah Nabawiyyah [6]: Penyiksaan Kafir Quraisy Kepada Para Sahabat Nabi

 Sedangkan kaum musyrikin memutuskan untuk menghentikan dakwah dan menghalangi jalan Allah dengan tekanan, kekerasan, dan tindakan keras. Setiap pemimpin dan kepala suku mulai menyiksa orang-orang yang telah beriman dari suku mereka. Sekelompok dari mereka juga mendatangi Abu Thalib, meminta dia untuk menghentikan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dari berdakwah kepada Allah.
 
Kaum musyrikin memperlakukan kaum Muslimin dengan penyiksaan yang sangat keji. Salah satu yang paling menderita adalah Bilal bin Rabah Radhiyallahu Anhu, seorang budak milik Umayyah bin Khalaf. Umayyah menyiksanya dengan cara yang mengerikan. Dia mengikat leher Bilal dengan tali dan menyerahkannya kepada anak-anak untuk dimainkan, sambil terus memaksa Bilal untuk meninggalkan Islam. Namun, Bilal tetap berkata:
 
أَحَدٌ أَحَدٌ
 
"Allah Yang Maha Esa, Allah Yang Maha Esa."
 
Ketika Umayyah melihat Bilal tetap teguh, dia membawa Bilal ke tengah terik matahari, menelentangkannya di atas pasir yang panas membara, lalu meletakkan batu besar di dadanya. Umayyah berkata kepadanya:
 
لَا تَزَالُ هَكَذَا حَتَّى تَمُوتَ أَوْ تَكْفُرَ بِمُحَمَّدٍ وَتَعْبُدَ اللَّاتَ وَالْعُزَّى
 
“Kamu akan tetap seperti ini sampai mati, atau kamu kufur kepada Muhammad dan menyembah Latta dan Uzza.”
 
Namun, Bilal tetap berkata:
 
أَحَدٌ أَحَدٌ
 
"Allah Yang Maha Esa, Allah Yang Maha Esa."
 
Suatu hari, Abu Bakar Radhiyallahu Anhu lewat dan melihat Bilal disiksa. Maka, Abu Bakar berkata kepada Umayyah:
 
أَشْتَرِي بِلَالًا وَأُعْتِقُهُ لِلَّهِ
 
“Aku akan membeli Bilal dan memerdekakannya untuk Allah.”
 
Lalu Abu Bakar memerdekakan Bilal.
 
Demikian juga, Amr bin Fuhairah Radhiyallahu Anhu disiksa hingga kehilangan kesadarannya dan tidak tahu apa yang dia ucapkan.
 
Abu Fakihah, yang bernama asli Aflah, juga disiksa dengan cara yang kejam. Ia dijemur di tengah terik matahari, diikat dengan rantai besi di kakinya, dan ditelentangkan di atas pasir yang panas. Batu besar diletakkan di punggungnya hingga ia tak bisa bergerak dan sering kali kehilangan kesadaran.
 
Suatu ketika, mereka mengikat kakinya dengan tali, menyeretnya di atas pasir yang panas, dan mencekiknya hingga mereka mengira dia sudah mati. Ketika Abu Bakar Radhiyallahu Anhu mengetahui hal ini, dia kembali membeli dan memerdekakannya untuk Allah.
 
Salah satu yang disiksa dengan kejam adalah Khabbab bin Al-Arat Radhiyallahu Anhu. Dia adalah budak yang ditawan pada masa jahiliyah dan dibeli oleh Ummu Anmar binti Saba' Al-Khuzaiyah. Khabbab bekerja sebagai pandai besi, dan setelah dia masuk Islam, majikannya mulai menyiksanya dengan api. Ummu Anmar sering kali membawa besi yang dipanaskan hingga membara dan meletakkannya di punggung Khabbab, memaksanya untuk meninggalkan ajaran Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Namun, Khabbab hanya semakin teguh dalam keimanannya.
 
Tidak hanya itu, kaum musyrikin lainnya juga turut menyiksa Khabbab. Mereka memelintir lehernya, menarik rambutnya, dan berulang kali melemparkannya ke atas bara api. Setelah itu, mereka meletakkan batu besar di dadanya agar ia tidak bisa bangun. Namun, semua siksaan itu tidak mengurangi keimanan Khabbab sedikit pun.
 
Begitu pula dengan Zunairah, seorang budak perempuan Romawi yang memeluk Islam. Zunairah adalah budak milik Umar bin Khattab sebelum beliau masuk Islam. Zunairah disiksa dan dipukul oleh Umar karena keislamannya, sampai ia kehilangan penglihatannya. Ketika orang-orang Quraisy melihatnya buta, mereka berkata:
 
أَصَابَتْكِ اللَّاتُ وَالْعُزَّى
 
“Latta dan Uzza telah membuatmu buta.”
 
Namun, Zunairah menjawab:
 
لَا وَاللَّهِ مَا أَصَابَتْنِي وَهَذَا مِنَ اللَّهِ وَإِنْ شَاءَ كَشَفَهُ
 
“Tidak, demi Allah, Latta dan Uzza tidak membuatku buta. Ini dari Allah, dan jika Dia menghendaki, Dia akan memulihkannya.”
 
Pada hari berikutnya, Allah memulihkan penglihatannya. Ketika hal ini terjadi, kaum Quraisy berkata bahwa itu adalah sihir dari Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.
 
Begitu juga, Ummu 'Ubais, seorang budak dari Bani Zuhrah, memeluk Islam. Dia pun disiksa oleh tuannya, Al-Aswad bin 'Abd Yaghuts, salah satu musuh besar Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan termasuk orang-orang yang suka mengejek beliau.
 
Seorang budak perempuan milik 'Amr bin Mu'ammil dari Bani 'Adi juga memeluk Islam. Ketika itu, Umar bin Khattab Radhiyallahu Anhu masih dalam keadaan kafir, dan dia turut menyiksanya. Umar memukul budak tersebut hingga merasa lelah, kemudian berkata:
 
وَاللَّهِ مَا أَدَعُكِ إِلَّا سَآمَةً
 
“Demi Allah, aku hanya meninggalkanmu karena aku sudah lelah.”
 
Namun, budak tersebut menjawab:
 
كَذَلِكَ يَفْعَلُ بِكَ رَبُّكَ
 
“Demikian pula yang akan dilakukan oleh Tuhanmu kepadamu.”
 
Di antara para budak perempuan yang memeluk Islam dan disiksa adalah An-Nahdiyah dan putrinya, yang dimiliki oleh seorang wanita dari Bani 'Abd Ad-Dar. Abu Bakar Radhiyallahu Anhu membeli dan memerdekakan mereka, seperti yang telah dilakukannya kepada Bilal, 'Amir bin Fuhairah, dan Abu Fakihah.
 
Ayah Abu Bakar, Abu Quhafah, pernah menegurnya dengan berkata,
 
أراك تعتق رقاباً ضعافاً، فلو أعتقت رجالاً جلداً لمنعوك فقال : إني أريد وجه الله
 
"Aku melihatmu memerdekakan budak-budak yang lemah. Mengapa engkau tidak memerdekakan orang-orang yang kuat yang bisa melindungimu?" Abu Bakar Radhiyallahu Anhu menjawab, "Sesungguhnya aku menginginkan wajah Allah."
 
Maka Allah Subhanahu Wa Ta'ala menurunkan ayat-ayat yang memuji Abu Bakar dan mencela musuh-musuhnya, firman Allah:
 
فَأَنذَرتُكُمْ نَارًا تَلَظَّى * لَا يَصْلَاهَا إِلَّا الْأَشْقَى * الَّذِي كَذَّبَ وَتَوَلَّى * وَسَيُجَنَّبُهَا الْأَتْقَى * الَّذِي يُؤْتِي مَالَهُ يَتَزَكَّى * وَمَا لِأَحَدٍ عِندَهُ مِن نِعْمَةٍ تُجْزَى * إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِ الْأَعْلَى * وَلَسَوْفَ يَرْضَى
 
"Aku peringatkan kalian dengan api yang menyala-nyala, yang hanya dimasuki oleh orang yang paling celaka, yang mendustakan (kebenaran) dan berpaling (dari iman). Dan akan dijauhkan darinya orang yang paling takwa, yang menafkahkan hartanya untuk membersihkan (dirinya), dan tidak ada seorang pun yang mempunyai nikmat padanya yang harus dibalas, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari wajah Tuhannya Yang Mahatinggi, dan kelak dia benar-benar mendapat kesenangan." (QS. Al-Lail: 14-21)
 
Ayat ini memuji Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu Anhu atas perbuatannya memerdekakan budak-budak, termasuk Bilal dan budak-budak perempuan lainnya, yang dilakukan semata-mata karena mencari ridha Allah. Semoga Allah meridhainya dan para sahabat lainnya.
 
 
Ammaar bin Yasir Radhiyallahu Anhu, bersama ibu dan ayahnya, adalah di antara yang disiksa karena keimanan mereka. Mereka adalah sekutu Bani Makhzum, dan Bani Makhzum, yang dipimpin oleh Abu Jahal, sering membawa mereka ke tempat yang disebut Al-Abthah saat terik panas matahari untuk menyiksa mereka. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam sering melewati mereka dan berkata:
 
«صَبْرًا آلَ يَاسِرٍ مَوْعِدُكُمُ الْجَنَّةُ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِآلِ يَاسِرٍ»
 
"Sabarlah wahai keluarga Yasir, sesungguhnya janji kalian adalah surga. Ya Allah, ampunilah keluarga Yasir."
 
Yasir, ayah dari Ammar, meninggal di bawah siksaan. Sedangkan Sumayyah, ibu Ammar, ditikam oleh Abu Jahal dengan tombak di bagian tubuhnya, hingga meninggal dunia. Dia adalah syahidah pertama dalam Islam.
 
Ammar sendiri menderita siksaan berat. Kadang-kadang, para penyiksa memakaikan baju besi yang panas pada tubuhnya di siang yang terik, atau mereka meletakkan batu merah yang berat di dadanya, dan kadang-kadang mereka menenggelamkannya dalam air. Pada suatu kesempatan, Ammar, di bawah tekanan berat, mengucapkan sesuatu yang sesuai dengan apa yang diinginkan kaum musyrik, meskipun hatinya tetap penuh dengan iman. Maka turunlah firman Allah:
 
﴿ مَن كَفَرَ بِاللَّهِ مِن بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالإِيمَانِ ﴾
 
"Barang siapa yang kafir kepada Allah sesudah beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam iman…" (QS. An-Nahl: 106).
 
Begitu juga, Mus'ab bin Umair Radhiyallahu Anhu, yang sebelumnya hidup dalam kemewahan, setelah memeluk Islam, ditolak oleh ibunya. Ia dikeluarkan dari rumah, dan dilarang makan dan minum hingga kulitnya menjadi kering seperti kulit ular.
 
Shuhaib bin Sinan Ar-Rumi Radhiyallahu Anhu juga mengalami siksaan yang begitu berat hingga kehilangan kesadarannya dan tidak tahu lagi apa yang diucapkannya.
 
Begitu juga Utsman bin Affan Radhiyallahu Anhu yang disiksa oleh pamannya dengan cara menggulungnya dalam tikar yang terbuat dari daun kurma, kemudian menyalakan api di bawahnya untuk menyiksanya.
 
Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu Anhu dan Thalhah bin Ubaidillah Radhiyallahu Anhu juga mendapat perlakuan buruk. Mereka berdua diikat dalam satu tali oleh Naufal bin Khuwailid Al-Adawi—atau ada yang mengatakan oleh Utsman bin Ubaidillah, saudara Thalhah—agar mereka berhenti dari shalat dan agama Islam. Namun, keduanya tidak menghiraukan hal tersebut dan tetap melanjutkan shalat. Karena mereka diikat bersama-sama dalam satu tali, keduanya kemudian dikenal dengan sebutan "Al-Qarīnain" (dua sahabat yang terikat).
 
Adapun Abu Jahal, ketika mendengar ada seseorang yang masuk Islam dari golongan terpandang dan memiliki kekuatan, dia akan mempermalukan dan menghinanya, serta mengancam akan menyebabkan kerugian besar dalam hal harta dan status sosialnya. Namun, jika orang yang masuk Islam itu berasal dari golongan lemah, maka Abu Jahal akan memukulnya dan memprovokasi orang lain untuk melakukan hal yang sama.
 
Itulah gambaran kekerasan yang dilakukan terhadap kaum muslimin dari kalangan lemah. Sementara, bagi mereka yang berasal dari kalangan pembesar dan pemuka, siksaan dilakukan dengan hati-hati, dan hanya mereka yang selevel dalam kekuasaan atau kedudukan yang berani menyakiti mereka, itu pun dengan penuh kewaspadaan.

Tag: Raudhah Al-Anwar

Abdurrahman Al-Amiry

Kamis, 10 Oktober 2024 di Ma'had Imam Al-Albani

Kajian Al-Amiry

Abdurrahman Al-Amiry adalah seorang penuntut ilmu dan pengkaji islam, serta mudir atau pimpinan ponpes Imam Al-Albani, Prabumulih, Sumsel. Keseharian beliau adalah mengajar dan berdakwah di jalan Allah. Beliau menghabiskan waktu paginya dengan mengajar para santri dan menghabiskan waktu malam dengan berdakwah lepas di berbagai masjid..

0 komentar:

Posting Komentar

Contact Me

Adress

Ma'had Imam Al-Albani, Prabumulih, Sumsel

Phone number

+62 89520172737 (Admin 'Lia')

Website

www.abdurrahmanalamiry.com