Sedangkan kaum musyrikin memutuskan untuk menghentikan
dakwah dan menghalangi jalan Allah dengan tekanan, kekerasan, dan tindakan
keras. Setiap pemimpin dan kepala suku mulai menyiksa orang-orang yang telah
beriman dari suku mereka. Sekelompok dari mereka juga mendatangi Abu Thalib,
meminta dia untuk menghentikan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dari
berdakwah kepada Allah.
Kaum musyrikin memperlakukan kaum Muslimin dengan
penyiksaan yang sangat keji. Salah satu yang paling menderita adalah Bilal bin
Rabah Radhiyallahu Anhu, seorang budak milik Umayyah bin Khalaf. Umayyah
menyiksanya dengan cara yang mengerikan. Dia mengikat leher Bilal dengan tali
dan menyerahkannya kepada anak-anak untuk dimainkan, sambil terus memaksa Bilal
untuk meninggalkan Islam. Namun, Bilal tetap berkata:
أَحَدٌ أَحَدٌ
"Allah Yang Maha Esa, Allah Yang Maha Esa."
Ketika Umayyah melihat Bilal tetap teguh, dia membawa
Bilal ke tengah terik matahari, menelentangkannya di atas pasir yang panas
membara, lalu meletakkan batu besar di dadanya. Umayyah berkata kepadanya:
لَا تَزَالُ هَكَذَا
حَتَّى تَمُوتَ أَوْ تَكْفُرَ بِمُحَمَّدٍ وَتَعْبُدَ اللَّاتَ وَالْعُزَّى
“Kamu akan tetap seperti ini sampai mati, atau kamu
kufur kepada Muhammad dan menyembah Latta dan Uzza.”
Namun, Bilal tetap berkata:
أَحَدٌ أَحَدٌ
"Allah Yang Maha Esa, Allah Yang Maha Esa."
Suatu hari, Abu Bakar Radhiyallahu Anhu lewat dan
melihat Bilal disiksa. Maka, Abu Bakar berkata kepada Umayyah:
أَشْتَرِي بِلَالًا
وَأُعْتِقُهُ لِلَّهِ
“Aku akan membeli Bilal dan memerdekakannya untuk
Allah.”
Lalu Abu Bakar memerdekakan Bilal.
Demikian juga, Amr bin Fuhairah Radhiyallahu Anhu
disiksa hingga kehilangan kesadarannya dan tidak tahu apa yang dia ucapkan.
Abu Fakihah, yang bernama asli Aflah, juga disiksa
dengan cara yang kejam. Ia dijemur di tengah terik matahari, diikat dengan
rantai besi di kakinya, dan ditelentangkan di atas pasir yang panas. Batu besar
diletakkan di punggungnya hingga ia tak bisa bergerak dan sering kali
kehilangan kesadaran.
Suatu ketika, mereka
mengikat kakinya dengan tali, menyeretnya di atas pasir yang panas, dan
mencekiknya hingga mereka mengira dia sudah mati. Ketika Abu Bakar Radhiyallahu
Anhu mengetahui hal ini, dia kembali membeli dan memerdekakannya untuk Allah.
Salah satu yang disiksa dengan kejam adalah Khabbab bin
Al-Arat Radhiyallahu Anhu. Dia adalah budak yang ditawan pada masa jahiliyah
dan dibeli oleh Ummu Anmar binti Saba' Al-Khuzaiyah. Khabbab bekerja sebagai
pandai besi, dan setelah dia masuk Islam, majikannya mulai menyiksanya dengan
api. Ummu Anmar sering kali membawa besi yang dipanaskan hingga membara dan
meletakkannya di punggung Khabbab, memaksanya untuk meninggalkan ajaran
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Namun, Khabbab hanya semakin teguh
dalam keimanannya.
Tidak hanya itu, kaum musyrikin lainnya juga turut
menyiksa Khabbab. Mereka memelintir lehernya, menarik rambutnya, dan berulang
kali melemparkannya ke atas bara api. Setelah itu, mereka meletakkan batu besar
di dadanya agar ia tidak bisa bangun. Namun, semua siksaan itu tidak mengurangi
keimanan Khabbab sedikit pun.
Begitu pula dengan Zunairah, seorang budak perempuan
Romawi yang memeluk Islam. Zunairah adalah budak milik Umar bin Khattab sebelum
beliau masuk Islam. Zunairah disiksa dan dipukul oleh Umar karena keislamannya,
sampai ia kehilangan penglihatannya. Ketika orang-orang Quraisy melihatnya
buta, mereka berkata:
أَصَابَتْكِ اللَّاتُ
وَالْعُزَّى
“Latta dan Uzza telah membuatmu buta.”
Namun, Zunairah menjawab:
لَا وَاللَّهِ مَا
أَصَابَتْنِي وَهَذَا مِنَ اللَّهِ وَإِنْ شَاءَ كَشَفَهُ
“Tidak, demi Allah, Latta dan Uzza tidak membuatku
buta. Ini dari Allah, dan jika Dia menghendaki, Dia akan memulihkannya.”
Pada hari berikutnya, Allah memulihkan penglihatannya.
Ketika hal ini terjadi, kaum Quraisy berkata bahwa itu adalah sihir dari
Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam.
Begitu juga, Ummu 'Ubais, seorang budak dari Bani
Zuhrah, memeluk Islam. Dia pun disiksa oleh tuannya, Al-Aswad bin 'Abd Yaghuts,
salah satu musuh besar Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan termasuk
orang-orang yang suka mengejek beliau.
Seorang budak perempuan milik 'Amr bin Mu'ammil dari
Bani 'Adi juga memeluk Islam. Ketika itu, Umar bin Khattab Radhiyallahu Anhu
masih dalam keadaan kafir, dan dia turut menyiksanya. Umar memukul budak
tersebut hingga merasa lelah, kemudian berkata:
وَاللَّهِ مَا أَدَعُكِ
إِلَّا سَآمَةً
“Demi Allah, aku hanya meninggalkanmu karena aku sudah
lelah.”
Namun, budak tersebut menjawab:
كَذَلِكَ يَفْعَلُ بِكَ
رَبُّكَ
“Demikian pula yang akan
dilakukan oleh Tuhanmu kepadamu.”
Di antara para budak perempuan yang memeluk Islam dan
disiksa adalah An-Nahdiyah dan putrinya, yang dimiliki oleh seorang wanita dari
Bani 'Abd Ad-Dar. Abu Bakar Radhiyallahu Anhu membeli dan memerdekakan mereka,
seperti yang telah dilakukannya kepada Bilal, 'Amir bin Fuhairah, dan Abu
Fakihah.
Ayah Abu Bakar, Abu Quhafah, pernah menegurnya dengan
berkata,
أراك تعتق رقاباً ضعافاً،
فلو أعتقت رجالاً جلداً لمنعوك فقال : إني أريد وجه الله
"Aku melihatmu memerdekakan budak-budak yang
lemah. Mengapa engkau tidak memerdekakan orang-orang yang kuat yang bisa
melindungimu?" Abu Bakar Radhiyallahu Anhu menjawab, "Sesungguhnya
aku menginginkan wajah Allah."
Maka Allah Subhanahu Wa Ta'ala menurunkan ayat-ayat
yang memuji Abu Bakar dan mencela musuh-musuhnya, firman Allah:
فَأَنذَرتُكُمْ نَارًا
تَلَظَّى * لَا يَصْلَاهَا إِلَّا الْأَشْقَى * الَّذِي كَذَّبَ وَتَوَلَّى * وَسَيُجَنَّبُهَا
الْأَتْقَى * الَّذِي يُؤْتِي مَالَهُ يَتَزَكَّى * وَمَا لِأَحَدٍ عِندَهُ مِن
نِعْمَةٍ تُجْزَى * إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِ الْأَعْلَى * وَلَسَوْفَ
يَرْضَى
"Aku peringatkan kalian dengan api yang
menyala-nyala, yang hanya dimasuki oleh orang yang paling celaka, yang
mendustakan (kebenaran) dan berpaling (dari iman). Dan akan dijauhkan darinya
orang yang paling takwa, yang menafkahkan hartanya untuk membersihkan
(dirinya), dan tidak ada seorang pun yang mempunyai nikmat padanya yang harus
dibalas, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari wajah Tuhannya
Yang Mahatinggi, dan kelak dia benar-benar mendapat kesenangan." (QS.
Al-Lail: 14-21)
Ayat ini memuji Abu Bakar
Ash-Shiddiq Radhiyallahu Anhu atas perbuatannya memerdekakan budak-budak,
termasuk Bilal dan budak-budak perempuan lainnya, yang dilakukan semata-mata
karena mencari ridha Allah. Semoga Allah meridhainya dan para sahabat lainnya.
Ammaar bin
Yasir Radhiyallahu Anhu, bersama ibu dan ayahnya, adalah di antara yang disiksa
karena keimanan mereka. Mereka adalah sekutu Bani Makhzum, dan Bani Makhzum,
yang dipimpin oleh Abu Jahal, sering membawa mereka ke tempat yang disebut
Al-Abthah saat terik panas matahari untuk menyiksa mereka. Rasulullah
Shallallahu Alaihi Wasallam sering melewati mereka dan berkata:
«صَبْرًا آلَ يَاسِرٍ مَوْعِدُكُمُ
الْجَنَّةُ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِآلِ يَاسِرٍ»
"Sabarlah
wahai keluarga Yasir, sesungguhnya janji kalian adalah surga. Ya Allah,
ampunilah keluarga Yasir."
Yasir, ayah
dari Ammar, meninggal di bawah siksaan. Sedangkan Sumayyah, ibu Ammar, ditikam
oleh Abu Jahal dengan tombak di bagian tubuhnya, hingga meninggal dunia. Dia
adalah syahidah pertama dalam Islam.
Ammar sendiri
menderita siksaan berat. Kadang-kadang, para penyiksa memakaikan baju besi yang
panas pada tubuhnya di siang yang terik, atau mereka meletakkan batu merah yang
berat di dadanya, dan kadang-kadang mereka menenggelamkannya dalam air. Pada
suatu kesempatan, Ammar, di bawah tekanan berat, mengucapkan sesuatu yang
sesuai dengan apa yang diinginkan kaum musyrik, meskipun hatinya tetap penuh
dengan iman. Maka turunlah firman Allah:
﴿
مَن كَفَرَ بِاللَّهِ مِن بَعْدِ إِيمَانِهِ إِلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ
مُطْمَئِنٌّ بِالإِيمَانِ ﴾
"Barang
siapa yang kafir kepada Allah sesudah beriman (dia mendapat kemurkaan Allah),
kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam iman…"
(QS. An-Nahl: 106).
Begitu juga, Mus'ab bin Umair Radhiyallahu Anhu, yang
sebelumnya hidup dalam kemewahan, setelah memeluk Islam, ditolak oleh ibunya.
Ia dikeluarkan dari rumah, dan dilarang makan dan minum hingga kulitnya menjadi
kering seperti kulit ular.
Shuhaib bin
Sinan Ar-Rumi Radhiyallahu Anhu juga mengalami siksaan yang begitu berat hingga
kehilangan kesadarannya dan tidak tahu lagi apa yang diucapkannya.
Begitu juga
Utsman bin Affan Radhiyallahu Anhu yang disiksa oleh pamannya dengan cara menggulungnya
dalam tikar yang terbuat dari daun kurma, kemudian menyalakan api di bawahnya
untuk menyiksanya.
Abu Bakar
Ash-Shiddiq Radhiyallahu Anhu dan Thalhah bin Ubaidillah Radhiyallahu Anhu juga
mendapat perlakuan buruk. Mereka berdua diikat dalam satu tali oleh Naufal bin
Khuwailid Al-Adawi—atau ada yang mengatakan oleh Utsman bin Ubaidillah, saudara
Thalhah—agar mereka berhenti dari shalat dan agama Islam. Namun, keduanya tidak
menghiraukan hal tersebut dan tetap melanjutkan shalat. Karena mereka diikat
bersama-sama dalam satu tali, keduanya kemudian dikenal dengan sebutan
"Al-Qarīnain" (dua sahabat yang terikat).
Adapun Abu
Jahal, ketika mendengar ada seseorang yang masuk Islam dari golongan terpandang
dan memiliki kekuatan, dia akan mempermalukan dan menghinanya, serta mengancam
akan menyebabkan kerugian besar dalam hal harta dan status sosialnya. Namun,
jika orang yang masuk Islam itu berasal dari golongan lemah, maka Abu Jahal
akan memukulnya dan memprovokasi orang lain untuk melakukan hal yang sama.
Itulah gambaran kekerasan yang dilakukan terhadap kaum
muslimin dari kalangan lemah. Sementara, bagi mereka yang berasal dari kalangan
pembesar dan pemuka, siksaan dilakukan dengan hati-hati, dan hanya mereka yang
selevel dalam kekuasaan atau kedudukan yang berani menyakiti mereka, itu pun
dengan penuh kewaspadaan.
Tag: Raudhah Al-Anwar
Abdurrahman Al-Amiry
Kamis, 10 Oktober 2024 di Ma'had Imam Al-Albani
0 komentar:
Posting Komentar